Rabu, 19 September 2012

Usaha Dakwah di kalangan pelajar-pelajar Mesir



Alhamdulillah , sedikit sebanyak dapat lagi belajar daripada  orang2 alim disini . tertib usaha dakwah di kalangan pelajar-pelajar disini . kali nie diberi kesempatan untuk buat jaulah (ghash ke-2) di pusat ilmu paling terkenal di dunia iaitu di Masjid Al - Azhar , Mesir . Dengan berkat fikir risau kawan2 di situ. Alhamdulillah Allah swt bagi peluang untuk fikir macam mana pelajar-pelajar al azhar yang digelar sebagai (al azhari)  pun dapat terjun dalam usaha mulia ini . Sangat penting usaha atas di kalangan Al azhari ini. kerana mereka ini adalah ulama nanti. ulama adalah tersangat penting dalam usaha dakwah ini .

Cukup banyak dari kalangan alim ulama jamaah tabligh yang telah menegaskan mengenai kepentingan ilmu dan ulama dalam nasihat–nasihat mereka ataupun berbagai kitab mereka. Misalnya, Syaikh In’amul hasan telah menulisnya di dalam kitab Abwabu Muntakhobah, Syaikh Muhammad Yusuf juga telah menulis bab ilmu di dalam Hayatus Sahabah dan Muntakhab Ahadits, juga kitab – kitab lainya. Di dalam kitab–kitab tersebut, para ulama tabligh telah menuliskan bab khusus mengenai ilmu dan ulama. Mereka mengumpulkan dalil–dalil yang berkenaan dengan kepentingan ilmu dan ulama, kemudian menjelaskannya sebagai bekal untuk diamalkan dan disebarkan oleh da’i–da’i jamaah Tabligh.

Sebagai contoh , mari kita semak bagaimanakah Syaikh Yusuf Al – Kandhalawi menulis tentang kepentingan ilmu di dalam kitabnya; Munthakab Ahadits.

Ayat Al-Quran tentang Ilmu
Allah SWT berfirman : Allah sudah menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab dan Hikmah dan mengajarkan kepadamu apa yang tidak kauketahui sebelumnya. Dan karunia Allah kepadamu besar sekali. (QS. An-Nisa 113)

Hadits Nabawi Tentang Ilmu
Usman Ibnu ‘Affan r.a. meriwayatkan : Rasulullah SAW bersabda : Yang terbaik di antara kamu adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)

Abu Sa’id Al-Khudri r.a. meriwayatkan : Rasulullah SAW bersabda : Seorang yang beriman, tidak pernah akan merasa puas dengan mendengar dan menerima pengetahuan yang bermanfaat (ia akan terus mau belajar), sehingga ia mati dan masuk sorga. (HR. Tirmidzi)

Selamanya jamaah tabligh tidak mungkin bersikap anti terhadap ilmu agama. Yang ada hanyalah keterbatasan waktu dan kemampuan untuk mempelajari ilmu–ilmu agama secara khusus. Memang diakui, bahwa sebagian dari jamaah dakwah dan tabligh ini kurang berbekal ilmu, disebabkan latar belakang mereka sebelumnya yang awam dan tidak mempedulikan agama, bahkan ada sebagian mereka yang benar–benar memusuhi agama.

masalah sekarang ialah sangat sedikit jumlah ahli-ahli ilmu yang mahu berkorban mendatangi orang-orang awam ataupun mengiringi jamaah-jamaah dakwah yang sedang bergerak untuk mengajarkan agama kepada mereka. kerisauan mengenai hal ini, seringkali diungkapkan oleh Syiakh Muhammad Ilyas dan para musyaikh tabligh lainya. Diantaranya, syaikh Ilyas, berkata, “di dalam kerja Tabligh ini, ilmu dan dzikir mempunyai peranan dan perhatian yang sangat besar. Tanpa ilmu, tidak akan mudah untuk beramal, dan tidak akan mengenal amalan. Dan tanpa dzikir, ilmu akan menjadi kegelapan. Tidak akan dijumpai di dalamnya nur. Namun sayangnya hal ini terasa kurang dalam ahli–ahli dakwah.”

Beliau juga berkata, “Bagiku ilmu dan dzikir seandainya kurang dalam usaha ini adalah satu hambatan. Dan kekurangan ilmu dan zikir ini adalah disebabkan kurangnya ahli–ahli ilmu dan ahli–ahli dzikir yang turut dalam usaha dakwah ini. Seandainya beliau–beliau para ahli ilmu dan dzikir menyingsingkan lengan mereka untuk kerja ini, maka akan menyempurnakan kerja ini.” Untuk saat ini, ilmu masih terpenjara dala dua tempat; kitab – kitab agama dan para hati para ulama. Ilmu masih belum tersebar ke tengah masyarakat umum. Hal ini perlu diperbaiki secara bersama– sama.

Ada ungkapan syaikh maulana Ilyas yang mahsyur, bahwa; “ilmu dan dzikir bagi gerakanku ini laksana dua pergelangan tangan. Seperti dua buah sayap. Seandainya satu sayap terlepas, maka burung tentu akan sulit terbang. “beliau juga berkata, “ilmu tanpa dzikir adalah kegelapan dan dzikir tanpa ilmu adalah pintu bagi banyak fitnah.”

Beliau juga berkata, “segala tindak tanduk dan amal perbuatan serta kesungguhan dan pengorbanan kalian akan menjadi rosak apabila kalian tidak ambil perhatian terhadap ilmu agama dan dzikrullah. Bahkan kalian dalam keadaan bahaya yang sangat besar serta besar kemungkinan jika kalian lalaikan kedua hal tadi, maka usaha dan perjuangan kalian akan menjadi pintu–pintu baru bagi fitnah dan kesesatan. Usaha dan perjuangan kalian tidak akan menjadi pintu bagi terbukanya agama. Seandainya ilm3u tidak dipelajari, maka islam dan iman sekedar adap istiadat saja. Dan seandainya ilmu ada namun tidak disertai dengan dzikrullah maka semua akan mejadi kegelapan. Oleh karena itu, dalam hal ini jangan sekali–kali melalaikan kepentingan ilmu agama dan dzkir kepada Allah. Sebaliknya selalulah memberikan perhatian khusus terhadap keduanya. Jika tidak, maka usaha tabligh yang anda lakukan ini, sekedar gerakan saja dan Allah akn menunjukkan kerugian yang sangat besar kepada kalian.”

Hal inilah yang menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para masyaikh Tabligh. Mereka menghendaki agar jamaah–jamaah yang dikirim dan jamaah itu hanya berisikan orang–orang awam, hendaknya mereka khuruj disertai setidak–tidaknya oleh orang alim dan seorang Hafizul Quran. Dan dikehendaki juga para ulama agar bersedia meluangkan waktunya untuk mendatangi masyarakat awam. Sebaliknya, dari masyarakat awam dikehendaki agar mereka mendatangi alim ulama untuk mengambil manfaat dari ilmu mereka.

Untuk mengatasinya, para masyaikh Tabligh sangat menekankan kepentingan ilmu dan mendorong setiap mereka agar belajar ilmu dan mendekati alim ulama. Syaikh Muhammad Ilyas berkata, “kami datang ke suatu tempat, lalu usaha sungguh–sungguh di sana, menjadikan mereka ahli agama, mentawajuhkan orang yang lalai, menghidupkan agama di ahli tempatan dan bagaimana agar orang – orang awam mereka meu ishlah diri mereka dengan mendatangi para ulama dan sholihin. Asal kerja di setiap tempat adalah menjadikan mereka karkun lalu faedah yang terbesar bagi orang awam adalah bila dapat menghubungkan mereka dengan para ahli agama di tempat mereka sendiri. Yang jelas cara kami ini diajarkan kepada setiap orang dimana mereka mau ikut dalm cara ta’lim, menjadikan dirinya berfaedah, dan mengambil faedah dari yang lain. Dan atas hal ini banyak keterbatasan yang ada pada kami.”

Syaikh Abul Hasan Ali An – Nadwi menulis di dalam Sawanih Yusufi; “Salah satu usaha dalam dakwah ini adalah menjadikan dakwah sebagai cara untuk mendatangkan orang awam kepada ulama, dan mewujudkan kerisauan ulama pada diri orang awam. Dan orang awam dapat memahami derajat ketinggian ulama, sehingga orang awam senantiasa mengambil manfaat dari para ulama. Sesuai dengan aturan dan penegasan atas hal ini, dianjurkan agar senantiasa berkhidmat kepada alim ulama.” sekian .

p/s : Alhamdulillah, dewasa ini perkembangan Jemaah Dakwah dan Tabligh nampak meningkat dengan maju di sini. Peranan karkun2 Al Azhari mulai terasa di markas di sini . bahkan sebahagian mereka menggerakkan sahabat2 al azhari yang lain untuk terjun dalam usaha dakwah ini sebagai maksud hidup , tanpa mengganggu kegiatan study mereka. Malah pengajian mereka kedepan !! para Al – Azhari sudah banyak terlibat dengan usaha dakwah dan Tabligh ini. malah sekarang sudah meningkat jamaah pelajar dibentuk untuk keluar setiap bulan di sini , mencecah lebih kurang 20 jemaah pelajar Al Azhari khuruj fi sabilillah ke berbagai tempat dan setiap tempat di mesir untuk sempurnakan tertib pelajar yang ulama' tetapkan . Setelah kepulangan para al-azhari inilah , maka masyarakat umum di kampung–kampung pun dapat merasakan manfaat dan faedah mereka. Semangat orang–orang awam kepada agama mulai bangkit, sehingga selain banyaknya orang–orang tua yang bertaubat, anak–anak mereka pun mulai berminat untuk mendalami ilmu–ilmu agama dengan belajar di pondok–pondok , menhantar anak menjadi Al Hafiz , maka generasi beragama mulai berkembang bagai cendawan. Alhamdulillah shukran.
thefikirman | shoubra , egypt .

keru)�nnh?� �j, ladang gandum serba luas, padang stepa dan bebukitan hijau 

permai New South Wales-Victoria, ujung-ujungnya bertemu dengan layar langit 
yang biru sempurna. Semua cuma bisa dinikmati sebentar. Hujan lebat dan 
gelapnya malam segera menyergap Nissan Bluebird station milik Shah yang 
meluncur cepat.
Melbourne dingin malam itu, hampir seperti di saat winter. Trem-trem listrik 
masih beringsut menyusuri jalan-jalan kota dan kawasan suburban. Merkuri ribuan 
watt dan lampu-lampu kota meredam cahaya gemintang di langit Kutub Selatan.
Hawa dingin tadi segera terusir oleh suasana hangat begitu kami memasuki masjid 
Umar ben-Khattab, di Preston. Masjid waqaf pemerintah Arab Saudi ini selesai 
dibangun enam tahun silam. Kini menjadi markas jamaah tabligh di seluruh 
Melbourne dan Australia. Setiap JumUat malam mereka berkumpul dan beriUtikaf di 
sini. Sebuah kaligrafi kain ukuran besar dengan warna lembut tergantung persis 
di atas mihrab. Tulisannya, "Fabi ayyi aalaa i rabbikumaa tukadzdzibaan, maka 
nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kau dustakan?"
PAKAIAN YANG SAMA. Di depan mihrab, seorang tua berjanggut putih dari Srilanka 
sedang menyampaikan bayan (ceramah) dibantu seorang penerjemah. Tak kurang dari 
dua ratus orang duduk rapat-rapat, tekun mendengarkan ceramah itu.
Mereka berasal dari berbagai bangsa imigran seperti dari Asia Tenggara, Asia 
Selatan, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan banyak lagi termasuk Australia 
sendiri. 'Pakaian' mereka semua sama; Islam. Masya Allah, masya Allah! Rasanya 
seperti bukan di Melbourne. Rasanya seperti berada di salah satu sudut masjid 
Nabawi, di Madinah Al-Munawwarah.
Usai shalat Isya', makan malam bersama. Duduk berjajar, menunggu nampan datang 
sambil berdoa, lalu makanan satu nampan di makan tiga atau empat orang. Mulai 
sikap kepada makanan sampai cara duduk, semua mengikut sunnah.
Tiba-tiba sebuah suara orang Jawa yang sangat medok mengagetkan saya. "Anda 
dari Indonesia kan? Ini saya kasih tahu!" kata seorang lelaki tersenyum, sambil 
menyodorkan sebuah nampan penuh dengan nasi dan sayur tahu. Waduh, ini lidah 
saya sudah empat bulan tak ketemu tahu. Alhamdulillah. 
Sebelum tidur, ada pembacaan hayatush shahabah, kisah kehidupan para sahabat 
Nabi, lalu ada kalkuzari, semacam laporan perjalanan. Malam itu seorang brother 
keturunan Eritrea memberi laporan khuruj-nya dari Kaledonia Baru, sebuah negara 
kepulauan di Pasifik Selatan.
Diceritakannya betapa masyarakat muslim di wilayah bekas jajahan Prancis itu, 
yang terdiri dari keturunan India dan Jawa, telah jauh dari Islamnya. Merasa 
senang akan kedatangan saudara-saudaranya dari Melbourne, mereka minta lain 
kali didatangkan jamaah lagi.
Paginya, sehabis shubuh, seorang brother asal Bosnia yang lahir di Australia 
memberikan bayan shubuh. Rupanya ia baru saja pulang dari kampung ayah ibunya 
Bosnia-Herzegovina, memimpin sebuah jamaah tabligh pertama yang datang setelah 
perang berhenti di kawasan Balkan.
LUPA DUNIA? Tapi apa betul para aktivis tabligh yang 'selalu ingat mati' ini 
melupakan kehidupan dunia? Tudingan ini hampir tak pernah serta-merta mereka 
bantah dengan ucapan. Silakan dinilai sendiri.
Selama di masjid mereka tak pernah bicara bisnis. Tapi Mobil-mobil macam Toyota 
Tarago station yang di Jakarta tergolong mewah, Toyota Cressida, Honda Civic 
Genio dan merek-merek wah lainnya tiap Jum'at malam nangkring di halaman masjid 
Preston. Itu saja bisa menunjukkan cita rasa mereka pada teknologi maju, sejauh 
bisa difungsikan di jalan Allah.
Para karkun ini juga dikenal sebagai pekerja keras di bidangnya masing-masing. 
Ada yang supir taksi, tukang kayu, juragan butchery (rumah pemotongan hewan 
ternak), insinyur, birokrat, pedagang dan lain-lain. Mahasiswa yang aktif dalam 
gerakan inipun, meski rata-rata low profile, di kampus punya prestasi yang 
selalu bisa dibanggakan. Abdul Razak, mahasiswa ilmu-ilmu sosial di Charles 
Sturt University, merasa tak puas jika tugas-tugas yang dikerjakannya tak 
mendapat predikat excellent. "Prestasi belajar juga bagian dari dakwah kita 
kepada teman lain," katanya merendah. Mereka dikenal mahasiswa yang belajar 
dengan disiplin spartan. Di Wagga, beberapa mahasiswa yang aktif bertabligh 
biasa mengorganisasi kegiatannya dengan telepon genggam yang bukan lagi barang 
mewah.
Di Australia sendiri, sejak awal tahun 1970-an, gerakan ini berkembang pesat 
hingga sekarang. Dipimpin oleh Syaikh Muhtaz asal Mesir, pusatnya di Melbourne 
tidak lagi hanya mengarahkan sasaran dakwahnya ke Melbourne, Sydney, Perth, 
Darwin, dan kota-kota di pulau Australia.
Tapi juga melebar ke kepulauan Pasifik Selatan, seperti Vanuatu, Samoa, Fiji, 
Kaledonia Baru, ke China, Eropa, Afrika, dan Asia Tenggara. Ini terlihat dari 
pembicaraan yang berkembang dalam musyawarah bulanan yang sempat Sahid ikuti.
Musyawarah ini berlangsung di kawasan Folkner, di pinggiran Melbourne.Markas 
Tabligh Australia yang baru di kawasan ini adalah bekas komplek sekolah dasar 
di atas sebidang tanah seluas kira-kira 3 hektar.
Sehari-hari tempat ini dipakai untuk madrasah diniyah bagi anak-anak para 
karkun. "Sedang diusahakan agar madrasah ini disamakan statusnya dengan sekolah 
dasar umum," jelas Ruslan, seorang karkun asal Malaysia. Dalam musyawarah 
bulanan tadi, masing-masing pusat gerakan di Melbourne memberikan laporan dan 
rencana-rencana kegiatan kepada Syaikh Muhtaz dalam suatu forum terbuka. Lalu 
Amir Shaf -sebutan bagi pemimpin markas- mengarahkan pembicaraan pada rencana 
dakwah ke luar Australia. Ada beberapa kelebihan Australia dalam hal dakwah 
regional dan internasional ini. 
Pertama, para karkun Australia menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar 
utama, yang merupakan bahasa internasional.
Kedua, kebanyakan aktivis tabligh di Australia adalah keturunan kaum imigran 
dari berbagai belahan dunia. Mereka akan menjadi pasukan dakwah yang 'kuat' 
secara psikologis bila dikirimkan ke tanah kakek-neneknya. Contohnya Lukman, 
39, keturunan Italia bermata abu-abu yang lahir di Australia. Kepada Sahid ia 
membagi pengalamannya baru-baru ini ber-jaulah ke kampung ibu-bapaknya di 
kepulauan Sisilia, gudangnya mafia dan gangster kelas kakap. Katanya, kini di 
seluruh Italia ada 200-an masjid. "Kedatangan kami dari Australia disambut baik 
sebagai dukungan moril yang kuat bagi berkembangnya Islam di Italia," cerita 
Lukman sambil tersenyum.
PERHATIAN PADA INDONESIA. Dalam musyawarah bulanan di Folkner itu, Syaikh 
Muhtaz menekankan agar para karkun memberi perhatian khusus bagi Indonesia.
Ia bercerita, bahwa Maulana Hadraji rahmatullah 'alaih, pimpinan gerakan 
tabligh sedunia yang baru wafat beberapa tahun lalu, bermalam-malam tak bisa 
tidur setelah mendengar berita, bahwa musuh-musuh Islam berencana 
meng-Kristen-kan Indonesia dalam waktu 50 tahun.
Di Australia sendiri, penampilan para aktivis tabligh yang rendah hati dan 
menjauhkan diri dari soal-soal khilafiyah dan politik praktis, cukup ampuh 
menyelesaikan berbagai ketidakharmonisan hubungan antar ummat Islam. Pesan 
utama bayan atau ceramah para aktivis tabligh biasanya berisi enam hal standar, 
yaitu tentang keutamaan kalimah tayyibah (Laa ilaha illallaah, Muhammadan 
rasulullah); lalu membesarkan nama Allah dengan shalat yang khusyu'; ilmu dan 
dzikir; ikram (memuliakan) sesama muslimin; ikhlaskan niat; dan yang terakhir, 
tentang pentingnya setiap individu muslim melakukan daUwah dan tabligh.
Menghindari soal khilafiyah dan siyasah (politik), membuatnya mudah diterima 
oleh semua masyarakat. Rombongan jaulah yang saya dan Shah ikuti adalah suatu 
contoh nyata.Dalam jaulah dua hari satu malam di akhir minggu, kami bergabung 
dengan jamaah 8 orang yang mayoritas terdiri dari keturunan Bosnia.
Masjid yang dipilih untuk beri'tikaf adalah Masjid An-Nur milik masyarakat 
Kroasia. Terletak di kawasan Maidstone, 15 tahun yang lalu bangunan kayu itu 
adalah sebuah gereja yang dibeli menjadi masjid. Di sebelahnya ada sebuah 
bangunan yang lebih kecil, Islamic Center-nya masyarakat Kroasia. Sudah jadi 
rahasia umum, bahwa walau sesama muslim, orang Kroasia cenderung tak bisa akur 
dengan orang Bosnia. Masjid Kroasia yang berada di dekat pemukiman komunitas 
Bosnia itu tak pernah dikunjungi oleh orang Bosnia, kecuali orang Lebanon, 
Eriteria, dan Somalia.
Sebaliknya, masyarakat Bosnia -yang dikenal berperangai halus- sendiri akhirnya 
membangun masjid tak jauh dari kawasan itu. Keputusan ini merupakan klimaks 
ketidakharmonisan hubungan itu. Ironisnya, belum seratus persen masjid jadi, 
kaca-kacanya pecah berantakan diserang beberapa orang Kroasia yang tak 
bertanggung jawab.
Cerita sedih ini tidak saya dapatkan dari brothers Bosnia yang sejamaah dengan 
saya. Melainkan dari beberapa brothers tempatan asal Aljazair, Fiji, dan 
Somalia.
Di hari kedua jaulah, brothers dari Bosnia ini lagi-lagi memilih sasaran yang 
menantang. Yakni sebuah masjid milik masyarakat Turki yang dikenal keras, tak 
mau menerima rombongan tabligh beri'tikaf di situ. Saya kagum pada ghirah 
saudara-saudara Bosnia ini.
Pengalaman beberapa hari di Melbourne sangat mengesankan. Bertemu masyarakat 
muslim yang ghirah-nya kuat dan masjid yang makmur membuat saya tak merasa 
menyesal karena tak sempat ke The Great Ocean Road, sebuah kawasan pantai 
tebing yang terkenal indahnya. Lokasinya 3 jam dari Melbourne ke Adelaide, 
South Australia.
Dalam perjalanan pulang ke Wagga, saya melirik ke arah Shah. Di matanya ada 
semangat baru yang segar, yang sudah tak sabar diguyurkan kepada 
teman-temannya. Agar kota kecil Wagga-wagga semakin marak dengan dakwahnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar