Rabu, 19 September 2012

Persiapan Keluar Masturoh


Sesunguhnya Agama akan hidup hanya dengan dakwah, dan dakwah akan terus berjalan denganmengwujudkan kerja dakwah, kerja dakwah akan wujud dengan digerakannya jamaah-jamaah ( harian, mingguan, bulan, tahunan ). Baik laki-laki dan wanita mempunyai kewajiban yang sama dalam agama oleh karenanya di bentuk dan di berangkatkan jamaah-jamaah masturah ( Jamaah suami berserta istri)
Karena perkara dakwah ini merupakan perkara yang besar sudah seharusnya, banyak hal yang harus kita persiapkan ketika memutuskan untuk keluar masturah ( belajar agama bersama istri kita ) sehingga keluarnya kita dapat membawa manfaat yang besar, karena kalau kita keluar tanpa membawa persiapan yang matang tidak akan membawa perbaikan kepada diri kita dan kita tidak dapat menarik hidayah Allah swt.

Hal-hal yang harus kita persiapkan diantaranya:

1.Bagaimana istri kita bisa mudzakarah pada saat keluar.
Saat keluar adalah saat dimana istri kita mempraktekan semua materi mudzakarah yang suami mereka ajarkan dirumah, bukan malah keluarnya istri kita untuk belajar mudzakarah, jadi tidak ada alasan ketika keluar istri kita tidak mengerti materi mudzakarah, karena seharusnya mudzakarah dilakukan setiap hari sebelum kita keluar. Kalau sampai pada saat keluar istri kita tidak bisa membawakan materi mudzakarah maka yang patut di salahkan adalah suami-suami mereka. Karena seharusnya sebelum kita memutuskan keluar masturah maka hari-hari di rumah kita buat mudzakarah sebanyak 14 materi mudzakarah ( Safar, makan , tidur, pesanan wanita, mendidik anak secara Islami, bagaimana istiqbal, fikir alam , 6 sifat dll ).
Pada saat mudzakarah di rumah kita harus mendengar sendiri secara langsung bagaimana istri kita membuat mudzakarah , kalau suami tidak bisa memberikan materi mudzakarah maka sudah seharusnya suami bertanya kepada orang yang bisa setelah itu buat mudzakarah dengan istri di rumah.
Kita keluar masturah mau belajar dakwah yang betul, bukan mau belajar mudzakarah, kalau kita mempraktekan ini maka akan ada kesan yang berbeda di banding kita berangkat keluar masturah tanpa persiapan terlebih dulu.

2. Selesaikan semua yang berhubungan dengan pekerjaan ( cuti, dll ) dan masalah anak ( titip anak )
Selesaikan semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan dan anak jauh-jauh hari sebelum keluar masturah, jangan pas mendekati keluar baru sibuk ijin cuti dan titip anak, sehingga kita benar-benar bisa berkonsentrasi untuk keluar.

3. Keluar dengan hijab sempurna ( bukan cadar tapi purdah , kaos kaki , sarung tangan warna gelap )
Hijab sempurna hukumnya wajib ketika keluar masturah. selama tidak mau mengenakan hijab sempurna maka tidak di benarkan untuk keluar.

4. Keluar jangan membawa bermacam-macam buku diktat,
Markaz Jakarta tidak pernah mengeluarkan diktat-diktat , buku yang harus di bawa hanyalah Fadilah Amal + Sedekah , Alqur’an , Muntakhab Ahadits. Diluar dari itu tidak diperkenankan di bawa saat keluar apalagi dibaca saat mudzakarah.

5. Gunakan tertib yang berlaku di Indonesia, buka yang berlaku di Pakistan , Bangladesh , India dll.
Kerja dakwah bukan apa yang kita lihat , bukan apa yang kita dengar melainkan apa yang sudah di putuskan markaz Jakarta karena setiap negara mempunyai tertib masing-masing tergantung kondisi negara tersebut.

6. Bawa alat khidmat sendiri,
Jangan mengharap kepada orang tempatan karena itu sama saja mengharap kepada makhluk dan kalau hal itu sampai kita lakukan berarti kita telah menyalahi salah satu dari tertib dakwah, sebagai contoh kita bisa lihat kalau jamaah Pakistan datang ke Indonesia maka mereka membawa alat khitmad sendiri, tidak pernah mengharap alat khitmad dari Indonesia, seharusnya kita juga begitu apalagi kita hanya keluar antar daerah / halaqoh.

Hal-hal lain yang perlu kita sampaikan dan tekankan kepada istri kita sebelum berangkat keluar masturah.
Waktu keluar jangan membawa barang dagangan, karena waktu keluar kita ingin menekan dunia bukan malah memasukan atau menambah dunia, sangat tidak di benarkan terjadi transaksi jual beli saat keluar.
Jangan tanya ke masturah yang lain tentang ; pekerjaan suami mereka, gajinya dan jangan tanya sudah punya anak berapa karena kalau ada masturah yang mandul akan merasa tersinggung. Kita keluar bukan untuk membicarakan hal-hal tersebut kita keluar hanya untuk membicarakan perkara agama.
Kalau mendengar berita yang tak baik maka sampaikan kepada istri kita agar membohongkan itu berita , karena kita keluar sedang melatih untuk mendengar dan membicaraan hal-hal yang baik-baik saja. Katakan pada istri kita “Ketika keluar kamu hanya punya hak untuk melihat kebaikan orang dan kamu tidak punya hak melihat keburukan orang.” kalau hal ini di lakukan maka akan tumbuh kasih sayang
Ketika keluar maka kita targib istri kita jangan bawa pakaian banyak-banyak, baik ketika keluar 3 hari, 15 hari , 40 hari dst
Jangan membawa perhiasan berharga , semua di lepas , karena ketika kita keluar ingin menampilkan penampilan yang semua orang bisa ikut dalam dakwa bukan menampilkan tampilan yang mewah , karena semua orang bisa hidup sederhana tapi tak bisa hidup mewah
Untuk jamaah 3 hari di anjurkan untuk hari pertama membawa makanan sendiri sampai makan malam , sehingga tuan rumah tidak susah dengan kita.
Sebenarnya masih banyak hal-hal yang lain yang intinya sama seperti point-point diatas untuk lebih jelasnya maka setiap malam selasa kita niat hadir di markaz untuk mendengarkan secara langsung mudzakarah masturah yang di sampaikan badha sholat isya.

Ya Allah pilihlah kami , anak dan istri serta keturunan kami untuk meneruskan kerja dakwah, Dakwah sebagai maksud hidup, hidup untuk dakwah, dakwah sampai mati dan mati dalam dakwah.


aja� � e e �b H�c ai Islam dan kitab Allah serta sunnah Nabi-Nya sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW, jika mereka mau menerima Islam dan tidak memerangi.

Riwayat ini tertulis dalam kitab Hayatus Shahabah (1/128).

Surat Umar ra. Kepada Sa’ad Supaya Mendakwahkan Manusia Kepada Agama Islam Selama Tiga Hari

Diriwayatkan oleh Abu Ubaidah dan Yazid bin Abu Habib katanya :
Umar bin al Khaththab menulis sepucuk surat kepada Sa’ad bin Abu Waqas ra. yang isinya, “Sesungguhnya aku menulis surat kepadamu agar mendakwahi manusia kepada agama Islam SELAMA TIGA HARI, maka barangsiapa yang menerima seruan dakwah ini dan memeluk Islam sebelum terjadinya perang, maka ia adalah laki-laki dan kalangan orang Islam. Ia mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana orang-orang Islam lainnya. Ia mempunyai hak untuk memperoleh bagian dalam harta rampasan (ghanimah). Barangsiapa yang menerima seruanmu setelah selesainya perang atau setelah kekalahan mereka, maka hartanya adalah fa’i bagi orang-orang Islam, karena sesungguhnya mereka telah mempertahankannya sebelum ke-Islamannya. Maka ini adalah perintah dan surat kepadamu.” (al Kanz)

Dakwah Salman al Farisi Selama Tiga Hari Pada Han Istana-Istana Putih di Persia

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab al Hilyah dan Abu al Bukhtari bahwa sepasukan tentara Islam yang dipimpin oleh Salman al Farisi ra. telah mengepung sebuah istana dan istana-istana putih di Persia. Tentara-tentara itu berkata kepada Salman, “Ya Abu Abdullah, apakah tidak kita serang saja mereka?”

Salman menjawab, “Biarlah aku yang mengurusnya, aku akan mendakwahkan Islam kepada mereka terlebih dahulu SELAMA TIGA HARI sebagaimana yang telah aku dengar dan Rasulullah SAW. dan sebagaimana kebiasaan dakwah mereka.”

Salman benkata kepada onang-orang Persia itu, “Aku adalah seorang lelaki dati kalangan kamu, bangsa Persia. Apakah kamu tidak melihat bahwa orang-orang Arab telah menaatiku, maka jika kamu memeluk Islam, kamu akan mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana kami mempunyai hak dan kewajiban. Sebaliknya, jika kamu ingkar dan terus berpegang kepada agamamu, maka kami akan membiarkanmu untuk terus berpegang kepada agama itu, tetapi kamu harus membayar jizyah dan kamu adalah taklukan kami.”

Salman berbicara kepada mereka dengan bahasa Persia, antara lain katanya, “Kamu tidak akan disanjung dan dipuji jika kamu menolak agama Islam dan kami akan menyamaratakan di antara kamu.”
Orang-orang Persia itu menjawab, “Kami tidak akan beriman dan tidak akan membayar jizyah, bahkan kami akan memerangi kalian.”
Tentara-tentara Islam pun berkata kepada Salman, “Ya Abu Abdullah, kita serang saja mereka.”
Jawab Salman, “Tidak.”

Maka Salman melakukan dakwah kepada mereka SELAMA TIGA HARI. Tetapi setelah tiga hari berlalu, mereka tetap menolak Islam. Maka Salman pun berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Bangunlah dan perangi mereka.”

Tentara Islam pun bangun dan memerangi orang-orang Persia itu sampai akhirnya mereka dikalahkan.

Dikeluarkan juga oleh al Hakim dalam kitab al Mustadrak dan Ahmad dalam musnadnya sebagaimana dalam kitab Nasbirra’yah yang mengeluarkan hadits-hadits hidayah dengan maknanya: Ketiga tiba hari keempat, Salman memerintahkan orang-orang Islam supaya menyerang pada pagi hari dan menawannya.

Dikeluarkan juga oleh Ibnu Abu Syaibah sebagaimana dalam al Kanz dan dikeluarkan juga oleh Ibnu Jaris dan Abu al Bukhtari, katanya, “Pimpinan orang Islam ketika itu adalah Salman al Farisi, yang telah diangkat oleh mereka untuk menyeru orang-orang Persia kepada Islam.”

Dakwah Huzaifah bin Mihsan dan al Mughirah bin Syu’bah Kepada Rustam Pada Hari Kedua dan Hari Ketiga

Kemudian pada Hari yang kedua, Rustam meminta agar dikirimkan kepadanya seorang lelaki lain. Sa’ad kemudian mengutus Huzaifah bin Mihsan. Huzaifah lalu berbicara kepada Rustam sebagaimana Rib’i berbicra. Kemudian pada HARI YANG KETIGA al Mughirah bin Syu’bah diutus kepada Rustam, dan ia berbicara kepada Rustam dengan pembicaran yang panjang dan baik sekali.

Rustam berkata, “Sesungguhnya, dengan cara bagaimana kamu masuk ke negeri kami. Apakah seperti lalat yang menjumpai madu.”
Al Mughirah menjawab, “Barangsiapa yang dapat menyampaikanku ke tempat itu (madu), Ia akan memperoleh dua dirham. Apabila ia jatuh ke dalamnya, lalu ia meminta agar dikeluarkan darinya, tetapi tidak memperoleh pertolongan. Maka ia berkata, ‘Barangsiapa yang membebaskanku, akan aku beri upah empat dirham.’ Perumpamaan kamu itu seperti serigala yang lemah yang memasuki sebuah ladang anggur. Pemilik ladang itu merasa kasihan melihatnya, lalu membiarkan begitu saja. Ketika serigala itu menjadi gemuk, lalu binatang itu membuat kerusakan di dalam ladang itu. Pemilik ladang itu datang dengan membawa sebatang kayu, lalu menyuruh seorang pembantunya untuk mengusirnya keluar. Serigala itu berusaha keluar dan ladang itu, tetapi tidak mampu karena kegemukan. Oleh karena itu, pemilik ladang itu memukulnya hingga mati. Seperti itulah kamu akan keluar dan negeri kami.”

Maka Rustam pun sangat marah dan bersumpah demi matahari akan membunuh orang-orang Islam keesokan harinya.
Al Mughirah berkata, “Engkau akan mengetahuinya besok.”
Rustam berkata, “Aku akan memerintahkan orang-orangku agar memberimu pakaian, dan kepada amirmu akan aku berikan uang seribu dinar, pakaian dan kendaraan. Dengan begitu, kalian harus meninggalkan kami.”

Al Mughirah berkata, “Akankah itu terjadi setelah kami memusnahkan kerajaanmu dan melemahkan kekuatanmu? Kami hanya mempunyai waktu yang sedikit saja dan akan mengambil bayaran jizyah darimu, dan kamu akan berada di bawah taklukan kami dan menjadi hamba kami, akibat dan kekerasan hatimu.”

Betapa geramnya Rustam mendengar perkataan itu.
Sebagaimana yang diceritakan dalam kitab al Bidaayah. Juga telah diriwayatkan oleh at Tabari dan Ibnu ar Rufail dan ayahnya dan Abu Usman an Nahdi dan yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar