Sulaiman bin Dawud
Sulaiman adalah salah satu Nabi yang juga sebagai raja bani Israil menggantikan
ayahnya Daud ‘Alaihissalam. Dia dianugerahi oleh Alloh Subhannahu wa Ta’ala
kerajaan yang besar. Alloh menundukkan manusia, jin, burung, dan angin
untuknya, dan dapat mengerti bahasa binatang. Beliau juga dianugerahi oleh
Alloh berupa kecerdasan dan kemampuan untuk memberi keputusan yang benar dalam
perkara-perkara yang sulit yang terjadi pada masanya. Dia juga seorang yang
gemar berjihad dijalan Alloh, memperhatikan bala tentaranya, cermat meneliti
mereka dan perlengkapannya. Ketika Sulaiman merasa ajalnya telah dekat, ia
berkata, “Ya Alloh rahasiakan kematianku kepada jin, sehingga semua orang
mengetahui bahwa jin tidak mengetahui yang hal gaib”.
Sulaiman meninggal dalam keadaan bertopang kepada tongkatnya. Setelah satu
tahun, jasad Sulaiman terjatuh karena tongkatnya dimakan rayap. Ketika itu
barulah jin mengetahui Sulaiman telah meninggal. Setelah itu tampuk
kepemimpinan jatuh ke tangan anaknya, tetapi hanya berlangsung selama satu
tahun. Setelah itu pemerintahan bani israil terpecah belah.
Dzulqornain
Dalam surat al Kahfi, Alloh Subhannahu wa Ta’ala menyebutkan Dzulqornain dan
memujinya sebagai raja yang adil dan mampu menguasai timur dan barat yaitu
tempat matahari terbit dan tempat matahari terbenam, sebagai raja wilayah
diantara keduanya. Tiada yang sebanding dengannya, demikian menurut Imam
Az-Zuhri.Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Alloh menganugerahinya
kekuasaan yang besar yang mencakup segala sesuatu yang diberikan pada para
raja, berupa tentara, perlengkapan perang, dan beberapa benteng sehingga banyak
negeri raja-raja di muka bumi yang tunduk kepadanya. Dia juga dianugerahi ilmu
pengetahuan dan dapat memahami berbagai macam bahasa. Dia tidak menyerbu suatu
bangsa sebelum berbicara dengan mereka dalam bahasa mereka sendiri.
Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa dia melakukan perjalanan hingga
mencapai tempat terjauh di belahan bumi bagian barat, ia menyaksikan seakan-akan
matahari tenggelam di laut yang berlumpur hitam dan panas. Dia mendapati
segolongan besar dari bani Adam, kemudian Alloh memberikan kekuasaan kepadanya
untuk menyiksa atau berbuat kebaikan pada mereka.
Kemudian dia melakukan perjalanan kearah terbitnya matahari, yaitu kearah
timur. Setiap kali melewati segolongan umat, maka ia dapat mengalahkan dan
menguasai mereka serta menyeru mereka kepada Alloh. Ketika sampai ditempat
terbitnya matahari, dia menjumpai kaum yang tidak mempunyai bangunan yang dapat
dijadikan tempat tinggal, dan tidak ada pepohonan yang dapat menaungi dan
melindungi mereka dari terik matahari. Kemudian dia menempuh jalan yang lain
lagi, hingga sampai di hadapan dua buah bukit, terdapat dua gunung, yang
diantara keduanya terdapat lubang yang darinya keluar ya’juj dan ma’juj yang
membuat kerusakan(mengenai ya’juj ma’juj anda dapat membaca artikel pada alamat
: http://id.shvoong.com/books/biography/2068108-ya-juj-dan-ma-juj/ ) . dan
dia menjumpai dihadapan bukit itu suatu kaum yang hampir tidak dimengerti
karena keterasingan bahasa yang digunakan dan tempat tinggal yang terlalu jauh
dari manusia yang lain.
Mengenai anggapan bahwa Dzulqornain adalah Alexander yang
memiliki menteri Aristoteles(seorang filosof) adalah tidak benar, karena Alexander
adalah seorang penyembah berhala begitu juga menterinya, sedangkan Dzulqornain
adalah seorang yang bertauhid dan beriman kepada Alloh Subhannahu wa Ta’ala.
Dalam Al Bidayah wa Nihayah disebutkan bahwa Dzulqornain hidup dizaman Ibrahim
‘Alaihissalam dan bersamanya melakukan thawaf di Baitulloh, sedangkan Alexander
putra Philips al Maqduny al Yunani hidup 300 tahun sebelum Nabi Isa
‘Alaihissalam, hal tersebut juga dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Adanya anggapan bahwa Dzulqornain adalah Cyrus yang agung juga tidak tepat,
karena Cyrus(Bangsa Arab sering menyebutnya Kursy) adalah raja Persia sedangkan
Dzulqornain adalah keturunan Arab sebagaimana disebutkan al Hafizh Ibnu Hajar
dalam Fathul Bari, selain itu jarak antara Dzulqornain dan kelahiran Isa
‘Alaihissalam lebih dari 2000 tahun, sedangkan Cyrus hidup lima ratus tahun
sebelum kelahiran Isa ‘Alaihissalam. Al Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan didalam
kitab Fathul Bari pendapat-pendapat ulama mengenai nama Dzulqornain
1. Abdullah bin adh Dhahak bin Ma’ad bin ‘Adnan, sebagaimana diriwayatkan ibnu
Mardawaih dari Ibnu Abbas dan Al Hafizh menilai bahwa sanadnya sangatlah lemah.
2. Ash Sho’b.
3. Al Mundzir bin Abi al Qois salah seorang Raja Hiroh sedangkan ibunya adalah
Mawiyah binti ‘Auf bin Jasym.
4. Ash Sho’b bin Qorn bin Hamal salah seorang Raja Hamir.
5. Alexander putra Philips, demikian menurut Ath Thobari meskipun pendapat ini
telah terbantahkan sebagaimana penjelasan diatas.
6. Philips, pendapat ini dikuatkan oleh al Mas’udiy.
7. Al Humaisya’ sebagaimana disebutkan oleh al Hamdaniy. Kunyahnya adalah Abu
Ash Sho’b, ia adalah Ibnu ‘Amr bin ‘Uraib bin Zaid bin Kahlan bin Saba’
8. Abdullah bin Qorin bin Manshur bin Abdullah bin al Azd
Dari nama-nama tersebut yang paling kuat menurut Al Hafizh adalah ash Sho’b
berdasarkan syair-syair kuno peninggalan para pujangga seperti syair Umru’ al
Qois, Aus bin Hajar, Thurfah bin al Aid, dan lainnya. (mengenai Dzulqornain
selengkapnya anda dapat membaca di
:http://id.shvoong.com/books/biography/2073823-dzulqornain-raja-penguasa-timur-dan/)
Sumber : http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/dzulqarnain.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar