Minggu, 23 September 2012

Raja-Raja Muslim Penguasa Dunia


Dalam kitab Al Bidayah wa Nihayah yang ditulis oleh Ibnu Katsir, disebutkan bahwa seluruh dunia ini dikuasai oleh dua orang raja mu’min dan dua raja kafir. Dua raja mu’min itu adalah Sulaiman bin Dawud dan Dzulqornain. Sedangkan dua raja kafir itu adalah Namrud dan Bukhtanashor.

Sulaiman bin Dawud
Sulaiman adalah salah satu Nabi yang juga sebagai raja bani Israil menggantikan ayahnya Daud ‘Alaihissalam. Dia dianugerahi oleh Alloh Subhannahu wa Ta’ala kerajaan yang besar. Alloh menundukkan manusia, jin, burung, dan angin untuknya, dan dapat mengerti bahasa binatang. Beliau juga dianugerahi oleh Alloh berupa kecerdasan dan kemampuan untuk memberi keputusan yang benar dalam perkara-perkara yang sulit yang terjadi pada masanya. Dia juga seorang yang gemar berjihad dijalan Alloh, memperhatikan bala tentaranya, cermat meneliti mereka dan perlengkapannya. Ketika Sulaiman merasa ajalnya telah dekat, ia berkata, “Ya Alloh rahasiakan kematianku kepada jin, sehingga semua orang mengetahui bahwa jin tidak mengetahui yang hal gaib”.
Sulaiman meninggal dalam keadaan bertopang kepada tongkatnya. Setelah satu tahun, jasad Sulaiman terjatuh karena tongkatnya dimakan rayap. Ketika itu barulah jin mengetahui Sulaiman telah meninggal. Setelah itu tampuk kepemimpinan jatuh ke tangan anaknya, tetapi hanya berlangsung selama satu tahun. Setelah itu pemerintahan bani israil terpecah belah.

Dzulqornain 
Dalam surat al Kahfi, Alloh Subhannahu wa Ta’ala menyebutkan Dzulqornain dan memujinya sebagai raja yang adil dan mampu menguasai timur dan barat yaitu tempat matahari terbit dan tempat matahari terbenam, sebagai raja wilayah diantara keduanya. Tiada yang sebanding dengannya, demikian menurut Imam Az-Zuhri.Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Alloh menganugerahinya kekuasaan yang besar yang mencakup segala sesuatu yang diberikan pada para raja, berupa tentara, perlengkapan perang, dan beberapa benteng sehingga banyak negeri raja-raja di muka bumi yang tunduk kepadanya. Dia juga dianugerahi ilmu pengetahuan dan dapat memahami berbagai macam bahasa. Dia tidak menyerbu suatu bangsa sebelum berbicara dengan mereka dalam bahasa mereka sendiri.
Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa dia melakukan perjalanan hingga mencapai tempat terjauh di belahan bumi bagian barat, ia menyaksikan seakan-akan matahari tenggelam di laut yang berlumpur hitam dan panas. Dia mendapati segolongan besar dari bani Adam, kemudian Alloh memberikan kekuasaan kepadanya untuk menyiksa atau berbuat kebaikan pada mereka.
Kemudian dia melakukan perjalanan kearah terbitnya matahari, yaitu kearah timur. Setiap kali melewati segolongan umat, maka ia dapat mengalahkan dan menguasai mereka serta menyeru mereka kepada Alloh. Ketika sampai ditempat terbitnya matahari, dia menjumpai kaum yang tidak mempunyai bangunan yang dapat dijadikan tempat tinggal, dan tidak ada pepohonan yang dapat menaungi dan melindungi mereka dari terik matahari. Kemudian dia menempuh jalan yang lain lagi, hingga sampai di hadapan dua buah bukit, terdapat dua gunung, yang diantara keduanya terdapat lubang yang darinya keluar ya’juj dan ma’juj yang membuat kerusakan(mengenai ya’juj ma’juj anda dapat membaca artikel pada alamat : http://id.shvoong.com/books/biography/2068108-ya-juj-dan-ma-juj/ ) . dan dia menjumpai dihadapan bukit itu suatu kaum yang hampir tidak dimengerti karena keterasingan bahasa yang digunakan dan tempat tinggal yang terlalu jauh dari manusia yang lain.

Mengenai anggapan bahwa Dzulqornain adalah Alexander yang memiliki menteri Aristoteles(seorang filosof) adalah tidak benar, karena Alexander adalah seorang penyembah berhala begitu juga menterinya, sedangkan Dzulqornain adalah seorang yang bertauhid dan beriman kepada Alloh Subhannahu wa Ta’ala. Dalam Al Bidayah wa Nihayah disebutkan bahwa Dzulqornain hidup dizaman Ibrahim ‘Alaihissalam dan bersamanya melakukan thawaf di Baitulloh, sedangkan Alexander putra Philips al Maqduny al Yunani hidup 300 tahun sebelum Nabi Isa ‘Alaihissalam, hal tersebut juga dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Adanya anggapan bahwa Dzulqornain adalah Cyrus yang agung juga tidak tepat, karena Cyrus(Bangsa Arab sering menyebutnya Kursy) adalah raja Persia sedangkan Dzulqornain adalah keturunan Arab sebagaimana disebutkan al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, selain itu jarak antara Dzulqornain dan kelahiran Isa ‘Alaihissalam lebih dari 2000 tahun, sedangkan Cyrus hidup lima ratus tahun sebelum kelahiran Isa ‘Alaihissalam. Al Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan didalam kitab Fathul Bari pendapat-pendapat ulama mengenai nama Dzulqornain
1. Abdullah bin adh Dhahak bin Ma’ad bin ‘Adnan, sebagaimana diriwayatkan ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas dan Al Hafizh menilai bahwa sanadnya sangatlah lemah.
2. Ash Sho’b.
3. Al Mundzir bin Abi al Qois salah seorang Raja Hiroh sedangkan ibunya adalah Mawiyah binti ‘Auf bin Jasym.
4. Ash Sho’b bin Qorn bin Hamal salah seorang Raja Hamir.
5. Alexander putra Philips, demikian menurut Ath Thobari meskipun pendapat ini telah terbantahkan sebagaimana penjelasan diatas.
6. Philips, pendapat ini dikuatkan oleh al Mas’udiy.
7. Al Humaisya’ sebagaimana disebutkan oleh al Hamdaniy. Kunyahnya adalah Abu Ash Sho’b, ia adalah Ibnu ‘Amr bin ‘Uraib bin Zaid bin Kahlan bin Saba’
8. Abdullah bin Qorin bin Manshur bin Abdullah bin al Azd
Dari nama-nama tersebut yang paling kuat menurut Al Hafizh adalah ash Sho’b berdasarkan syair-syair kuno peninggalan para pujangga seperti syair Umru’ al Qois, Aus bin Hajar, Thurfah bin al Aid, dan lainnya. (mengenai Dzulqornain selengkapnya anda dapat membaca di :http://id.shvoong.com/books/biography/2073823-dzulqornain-raja-penguasa-timur-dan/)
Sumber : http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/dzulqarnain.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar