Kamis, 18 Oktober 2012

Cara Tarbiyah Diri


1.    Menjaga waktu di saat keluar
      Ibnul Qayyim mengatakan bahwa menyia-nyiakan waktu lebih besar kerugiannya daripada kematian, sebab menyia-nyiakan waktu bisa kehilangan Allah, sedangkan kematian hanya kehilangan dunia.
2.    Menjaga amal
      Ulama mengatakan, “zamanut tarbiyyah auqatut tarbiyyah”, artinya masa tarbiyah adalah waktu mertarbiyah diri. Maksudnya, jika dalam masa tarbiyah seseorang tidak bisa menjaga amal, maka mustahil di luar masa tarbiyah akan berhasil. Contohnya seorang santri yang tidak pernah shalat tahajjud ketika menuntut ilmu, maka mustahil dia akan menjadi ahli tahajjud ketika menjadi ‘ulama.
3.    Menjaga empat saluran, yaitu mata, telinga, mulut, dan fikiran agar hati tidak dimasuki keyakinan yang syirik.
4.    Muhashabah yaitu menghisab amalan setiap hari adakah yang ikhtilaf dengan sunnah Nabi SAW.


»»  Baca selanjutnya...

Penyebab Matinya Hati


1.    Mengenal Allah SWT tetapi tidak memenuhi haknya
2.    Baca Alquran tetapi tidak mengamalkannya
3.    Mengaku memusuhi syetan tetapi mengikuti dan mentaatinya
4.    Mengaku umat Rasul tetapi tidak mengamalkan sunnah-sunnahnya
5.    Ingin masuk sorga tetapi tidak beramal untuknya
6.    Ingin selamat dari neraka tetapi melemparkan diri kedalamnya
7.    Mati itu hak tetapi tidak siap untuk menghadapinya
8.    Meributkan dosa dan aib orang lain tetapi lupa akan aib dirinya  sendiri
9.    Merasakan nikmat tetapi tidak mensyukurinya
10. Kamu telah menguburkan mayat orang lain tetapi tidak dijadikan pelajaran dan peringatan

»»  Baca selanjutnya...

Cara untuk menjaga satu hati


1.    Niat islah diri.
2.    Taat pada putusan musyawarah.
3.    Jaga amalan ijtima’i.
4.    Rela berkorban.
5.    Tingkatkan ikrom pada orang lain.
6.    Lihat kebaikan orang lain dan sebaliknya lihat keburukan kita.
7.    Ambil takaza yang berat.
8.    Tertibkan diri sendiri.
9.    Beri kelonggaran pada orang lain.
10. Ikhlas dan istikhlas.
11. Hargai pengorbanan orang lain.
12. Bandingkan korban kita dengan korban sahabat.
13. Ini kerja saya orang lain hanya membantu.

»»  Baca selanjutnya...

Sifat Untuk Satu Hati


1.    Mahabah / kasih sayang.
2.    Sebarkan salam.
3.    Saling ikrom.
4.    Saling menghormati.
5.    Hindarkan perbedaan pendapat.
6.    Jangan menyakiti hati orang lain.
7.    Jangan sombong
8.    Melihat kebaikan orang lain.
9.    Utamakan ijtima’iyat
10. Hindarkan senda gurau
11. Jaga taat pada Amir
12. Jaga akhlak
14. Saling do’a mendo’akan.

»»  Baca selanjutnya...

Cara Da’i Menjaga Kesatuan Hati


1.    Senantiasa meluruskan niat untuk ishlah diri, bukan mengishlah orang lain. Tertib untuk diri sendiri, ikram untuk orang lain.
2.    Merapatkan dan meluruskan shaf ketika shalat berjama’ah.
3.    Saling menyebarkan salam.
4.    Saling memanggil dengan nama atau gelar yang disukai.
5.    Saling mendoakan.
6.    Selalu melihat kebaikan orang lain dan melihat kekurangan diri sendiri.
7.    Jangan merasa lebih tahu atau merasa sudah lama dalam usaha dakwah.
8.    Senantiasa duduk berjama’ah, baik dalam majelis maupun di luar majelis.
9.    Saling memaafkan.
10. Saling memberi hadiah.
11. Ikram dengan berkhidmat sesama jama’ah, walaupun ada petugas khidmat.
12. Menjaga lisan, hindari menegur langsung teman yang kurang tertib, berilah nasihat melalui mudzakarah atau pembicaraan empat mata.
13. Mentaati hasil musyawarah dan senantiasa mudzakarah ushul-ushul dakwah.

»»  Baca selanjutnya...

Tiga Belas Sifat Da’i


1.    Mahabbah kepada seluruh makhluk.
2.    Semangat rela berkorban harta dan diri untuk agama.
3.    Selalu Ishlah diri.
4.    Ikhlas semata-mata untuk mencari keridhaan Allah.
5.    Beristighfar dalam setiap amalan.
6.    Sabar setiap menghadapi ujian.
7.    Menisbatkan diri hanya kepada Allah.
8.    Tidak berputus asa dalam setiap kegagalan.
9.    Tabah seperti unta.
10. Tawadhu seperti bumi.
11. Tegak dan teguh seperti gunung.
12. Berpandangan luas seperti langit.
13. Istiqamah seperti matahari.

»»  Baca selanjutnya...

Tujuan Usaha Masturat


1.    Menjadikan istri kita sebagai `Alimah (berilmu) sehingga senantiasa istri kita duduk dalam taklim secara istiqomah karena nantinya istri kita yang akan bertanggung jawab dengan taklim di rumah.Taklim di rumah adalah usaha awal kerja agama dikalangan wanita, apabila kita telah membuat dan menghidupkan taklim di rumah maka ini seolah-olah kita telah mempersilahkan agama masuk kerumah kita. Apabila di rumah kita ada taklim yakni dibacakan firmah Allah swt dan sabda Rasulullah saw maka ini seolah-olah istri dan anak-anak kita setiap harinya mendapatkan nasehat langsung dari Allah swt dan Rasul-Nya. Sehingga ahli keluarga kita akan lembut dan ada kegairahan beramal serta ada kerinduan terhadap kampung akhirat dan bahkan ahli keluarga kita ada semangat untuk berjuang dan berkorban untuk agama Allah swt.
2.    Supayah istri kita menjadi Murabbiyah ( pendidik ), sehingga dapat mendidik anak-anak kita secara islami. Kalau kita melihat generasi sahabat, maka pada saat umur 18 tahun sampai 20 tahun seperti Usama bin zahid , Thariq bin Ziyad mereka sudah sanggup membawa pasukan yang jumlahnya puluhan ribu untuk menyebarkan agama keluar negeri, tapi kalau kita melihat keadaan hari ini sangat berbeda jauh sekali anak-anak kita umur 20 tahun hanya bisa kongko-kongko menghabiskan harta orang tuanya, bahkan yang terparah mereka sudah tak mengetahui lagi maksud hidup mereka, bahkan sudah tak mempunyai cita-cita untuk menyebarkan agamanya. Maka disinilah peran istri kita untuk mendidik dan membina anak-anak kita supayah menjadi generasi-generasi pilihan; Alim-Alimah , Hafiz-Hafizah , Sholeh-Sholehah, Dai-Daiyah
3.    Supayah istri kita menjadi `Abidah (ahli ibadah), maksudnya agar istri kita rajin menjaga ibadahnya sehingga istri-istri kita selalu menjaga sholatnya tepat pada waktunya, bahkan mereka juga menjaga sholat-sholat sunah ( Dhuha, Tahajud, hajad, dll ), Istri kita menjadi rajin membaca alquran minimal 1 juz setiap hari, menjaga dzikir pagi petang, bahkan rajin membaca doa-doa masnunah sehingga istri kita dapat membantu kita menarik pertolongan Allah swt , bahkan nanti sampai pada tahapan istri kita selalu menyelesaikan setiap masalah langsung kepada Allah swt melalui amalan.
4.    Supayah istri kita menjadi Zahidah (sederhana), sehingga kehidupan istri-istri kita meneladani sahabiyah-sahabiyah ra. Kehidupan dan rumah para sahabiyah sangat sederhana, bahkan seumur hidupnya Rasulullah saw tidak pernah memakan tepung yang halus dan Aisyah rha selama menjadi istri Rasulullah saw hanya mempunyai pakaian baru cuma dua kali saja. Para sahabiyah dan istri-istri Nabi saw melakukan segala perkerjaan rumah tangga sendiri sampai-sampai Fatimah anak dari jungjungan kita Rasulullah saw selalu dalam keadaan yang sangat memprihatinkan padahal dia adalah putri kesayangan Rasulullah saw, oleh karena itu melalu usaha dakwah ini kita mengharapkan istri-istri kita mencontoh kehidupan para sahabiyah.
5.    Istri kita menjadi Khaddimah (berkhidmad), yakni membantu melayani dan mendorong suami keluar dijalan allah , untuk kerja-kerja agama.
6.    Istri kita supayah menjadi seorang Da`iyah (penda`wah wanita), dia ada fikir dan risau atas keadaan umat, karena pada dasarnya istri-istri sering kali berfikir atas hal-hal yang menyusahkan dirinya (beras belum habis sudah pusing mikirin beras untuk besok) , mudah menangis (anak yang sakit dia yang menangis), maka kalau mereka gunakan tangisan dan risau dia maka hal tersebut sangat kuat untuk menarik pertolongan Allah swt , dengan kekuatan itu dia akan membujuk wanita-wanita yang datang kerumah kita untuk ambil bagian dalam usaha atas agama.

Maka bagaimana pun pentingnya usaha atas masturah, usaha tersebut harus di buat dengan sangat-sangat hati-hati, perlu diperhatikan tertib-tertibnya dan usul-usulnya, maka sering kita dengar kalau jamaah rizal ( laki-laki ) yang penting keluar untuk berdakwah dulu tertib nomor 2 sedangkan untuk jamaah masturah (wanita) sebaliknya. Masturah dikeluarkan harus dengan tertib kalau tidak memenuhi tertib dan usul-usulnya maka masturah tidak boleh di keluarkan.
&nbs� ~ b p p (�& ama Islam tersebar di zaman khulafurrasyidin, 2 orang khalifah masuk Islam dengan asbab wanita, yaitu : Umar r.a asbabnya adalah adiknya Fathimah binti Khattab r.ha dan Usman r.a asbabnya adalah bibinya Saudah r.ha.

c.    Jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki, jumlah anak-anak lebih banyak dari wanita, dengan asbab ambil usaha da`wah maka rahmat Islam akan tersebar keseluruh alam.
d.    Orang – orang kebathikan memanfaatkan wanita untuk promosi dunia.
e.    Apabila wanita paham agama akan rela berkorban habis-habisan. Seperti Siti Khadijah r.ha dan Sumayyah r.ha.
f.     Satu do`a seorang wanita shalehah lebih baik daripada do`a 70 wali. Tetapi satu wanita jahat lebih rusak daripada 1000 laki-laki jahat.
»»  Baca selanjutnya...